Sabtu, 06 Februari 2016

Jual ikan kerapu hybrid (cantang dan cantik) ukuran konsumsi

ready stock ikan kerapu hybrid (cantang dan cantik) size 0,5 kg up,Qty kurang lebih 4-5 to,untuk harga hubungi no hp 08156232580 atau 082112310580,berminat serius tidak perlu ragu menghubungi kami,harga sangat kompetitif !!!

Kamis, 21 Januari 2016

JUAL BIBIT IKAN PATIN, BAWAL, NILA, LELE, GURAME, MAS,BAUNG DLL

Kami,CV. Teratai Sepuluh menjual bibit ikan air tawar sejak tahun 2001,saat ini kami melayani pengiriman ke berbagai kota di Indonesia.


Produk bibit ikan air tawar antara lain :
1. Patin
2. Bawal
3. Nila GMT
4. Nila Gift
5. Gurame
6. Lele Sangkuriang
7. Nila Merah
8. Baung/Tagih




untuk detil silahkan klik Produk Kami

Jual Bibit Kerapu

Kami,CV. Teratai Sepuluh menjual bibit ikan kerapu/air laut,dengan size range 1 s/d 4 inch.


Produk bibit ikan air laut antara lain :

1. Kerapu Macan (Tiger Grouper)
2. Kerapu Tikus (Chromileptes Altivelis/Humpback Grouper)
3. Kerapu Cantang/Hybrid
4. Kakap Putih (Barramundi Cod)
5. Bawal Bintang










Untuk detil silahkan klik Produk Kami

SELL BABY GROUPER

SELL BABY GROUPER


we CV.Teratai Sepuluh,a company that role in gouper fish breeding such as tiger grouper,humpback grouper (chromileptes altivelis) and hybrid grouper,established since 2001,has served the shipping to the various regions in Indonesia and now will expand sales of grouper seed or export abroad,size available from 1.5 inch to 3 inch, for further information please check our product.

Rabu, 20 Januari 2016

Budidaya Kakap Merah


Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus)


Klasifikasi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculatus)
Menurut Saanin (1984) klasifikasi kakap merah adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Sub filum         : Vertebrata
Kelas              : Pisces
Sub Kelas       : Teleostei
Ordo               : Percomorphi
Sub Ordo        : Perciodea
Famili              : Lutjanidae
Genus              : Lutjanus
Spesies            : Lutjanus argentimaculatus


Morfologi dan Anatomi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argntimaculatus)
Ikan kakap merah (Lutjanus argntimaculatus) yaitu mempunyai tubuh yang memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan serangkaian gigi caninnya yang berada pada bagian depan.
Bagian bawah pra penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip dubur berjari-jari keras 3 lemah 8-9. Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk pada bagian antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul.
Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekuningan, kelabu hingga kecoklatan. Ada yang mempunyai garis-garis berwarna gelap dan terkadang dijumpai adanya bercak kehitaman pada sisi tubuh sebelah atas tepat di bawah awal sirip punggung berjari lunak. Pada umumnya berukuran panjang antara 25 – 50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm (Gunarso, 1995). Ikan kakap merah menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan sebagainya.
Ikan kakap merah tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan betinanya. Hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis jantan dan betina baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari betinanya. Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,2–25,2ºC. Ikan kakap jantan yang mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputar-putar membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air.
Secara umum ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap merah yang berukuran besar akan mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 15–20 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60–100 meter (Gunarso, 1995)

Distribusi Ikan Kakap Merah (Lutjanus argntimaculatus)
Ikan kakap merah  (Lutjanus argentimaculatus) umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil.
Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5-32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991). Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. FamiliLutjanidae utamanya menghuni perairan tropis maupun sub tropis, walau tiga dari genus Lutjanus ada yang hidup di air tawar (Baskoro et al. 2004).
Penyebaran kakap merah di Indonesia sangat luas dan hampir menghuni seluruh perairan pantai Indonesia. Penyebaran kakap merah arah ke utara mencapai Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan serta Filipina. Penyebaran arah ke selatan mencapai perairan tropis Australia, arah ke barat hingga Afrika Selatan dan perairan tropis Atlantik Amerika, sedangkan arah ke Timur mencapai pulau-pulau di Samudera Pasifik (Direktorat Jenderal Perikanan,1983 dalam Baskoro et al. 2004).
Menurut Djamal dan Marzuki (1992), daerah penyebaran kakap merah hampir di seluruh Perairan Laut Jawa, mulai dari Perairan Bawean, Kepulauan Karimun Jawa, Selat Sunda, Selatan Jawa, Timur dan Barat Kalimantan, Perairan Sulawesi, Kepulauan Riau. 
Nilai Ekonomis dan Ekologi Ikan Kakap Merah ((Lutjanus argntimaculatus)
Ikan kakap merah atau red snapper merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting. Kakap merah memiliki pangsa pasar yang luas namun produksinya kecil sehingga pemanfaatannya harus terus ditingkatkan untuk mendukung ekspor maupun kebutuhan lokal. Tapi, Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang. Selain itu kakap merah juga bisa dimakan karena dagingnya tebal, putih, empuk dan gurih. Ukuran yang baik untuk dikonsumsi sebaiknya yang masih berukuran medium, karena yang berukuran besar besar kebanyakan berisiko mengandung logam berat merkuri dalam kadar tinggi.
Ikan kakap merah umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil. Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5-32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991).  Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan
bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang. Famili Lutjanidae utamanya menghuni perairan tropis maupun sub tropis, walau tiga dari genus Lutjanus ada yang hidup di air tawar (Baskoro et al. 2004). 
Daftar Pustaka
Allen Gerald. Roger Steene. Paul Humman. Ned Deloach. 2003. Reef Fish Identificatiin. Perth : New world Publication, Inc.

Baskoro. M. S, Ronny. I.W, dan Arief Effendy. 2004. Migrasi dan Distribusi
                 Ikan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Direktorat Jenderal Perikanan. 1983. Hasil Ealuasi Potensi Sumberdaya Hayati Perikanan di Perairan Indonesia dan Perairan ZEE Indonesia. Direktorat Sumberdaya Hayati. Balai Penelitian Perikanan Laut. Departemen Pertanian Jakarta.

Djamal R. dan S. Marzuki. 1992. Analisis Usaha Penangkapan Kakap Merah dan Kerapu dengan Pancing Prawe, Jaring Nylon, Pancing Ulur dan Bubu. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut. Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Gunarso W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metode dan Taktik Penangkapan. Fakultas Perikanan IPB. Bogor.

Gunarso, Singgih D. 1995. Psikologis praktis Anak remaja dan keluarga, (Jakarta:
PT. BPK. Gunung Mulia).

Menangkap Ikan Karang dan Ikan Demersal Lainnya di Teluk Pelabuhanratu, Sukabumi. Bulletin PSP 8 : 1.


Budidaya Kakap Putih


PEMBENIHAN KAKAP PUTIH
(Lates calcariver, Bloch)
SKALA RUMAH TANGGA
(HSRT-Hatchery Skala Rumah Tangga)

1. PENDAHULUAN
Ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch) merupakan jenis ikan yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
dalam negeri maupun luar negeri.  Pada mulanya produksi kakap putih
diperoleh dari hasil sampingan dari budidaya di tambak, namun sekarang ikan
ini sudah khusus dibudidayakan pada kurungan apung di laut.  Dewasa ini di
Bengkalis dan sekitarnya (kepulauan Riau) sudah berkembang dengan luas
areal potensial sebesar 340 Ha.
Permasalahan utama dalam budidaya adalah terbatasnya benih yang tersedia
baik dalam jumlah dan mutu secara terus menerus dan berkesinambungan.
Sebagai gambaran di muara sungai Batam (Kabupaten Bengkalis - Kep. Riau)
terdapat kurungan apung sebanyak 550 unit, setiap unit ditebarkan 1.000 ekor
benih ukuran gelondongan sehingga dibutuhkan 550.000 ekor benih ukuran
gelondongan atau 2.750.000 ekor benih umur D30.  Dengan menggantungkan
benih dari alam tentu saja tidak memadai karena jumlah yang didapat sangat
terbatas, tingkat keseragamannya rendah dan kontinuitasnya tidak terjamin.
Pembenihan kakap putih skala besar yang dikelola oleh swasta sampai saat ini
belum ada, maka dari itu pembenihan kakap putih skala rumah tangga (HSRT Hatchery-Skala Rumah Tangga) perlu dikembangkan karena mempunyai
prospek yang cerah.
Pada prinsipnya HSRT udang dapat dikembangkan menjadi HSRT kakap putih
mengingat sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pembenihan kakap
putih tidak jauh berbeda dengan pembenihan udang.  Dengan demikian apabila
dilakukan diversifikasi usaha untuk perkembangan dan kesinambungan
budidaya komoditas yang bersangkutan juga untuk memberi keluwesan
berusaha sehingga modal yang sudah ditanam dapat terus berputar.
2. KRITERIA
Kriteria HSRT kakap putih yaitu :
1) Sebagai uasaha sampingan keluarga dengan memanfaatkan rumah menjadi
lokasi usaha dan anggota keluarga sebagai tenaga pelaksana (pekerja).
2) Peralatan yang digunakan mencerminkan kesederhanaan sehingga
memberikan kesan mudah diikuti baik dari segi investasi maupun
operasional.
3) Dalam operasionalnya dilakukan sedemikian rupa sehingga penggunaan
pompa air laut seminimal mungkin, sehingga dapat menghemat penggunaan
listrik yang pada gilirannya dapat menekan ongkos produksi.
4) Melaksanakan kegiatan usaha yang terbatas mesalnya pemeliharaan larva
dari telur hingga D20 s/d D25 atau D1/D2 hingga D20/D25.
5) Melaksanakan investasi relatif kecil sehingga mudah diikuti oleh masyarakat
luas.
6) Dengan kesederhanaan sarananya, sebagian input produksinya seperti telur
kakap putih, algae (fitoplankton) dan ritefer (zooplankton) bergantung pada
pembenihan lain.
7) Jumlah unit bak pemeliharaan larva per kepala keluarga disarankan lebih
kecil atau sama dengan tiga buah.  Karena semakin besar jumlah bak
semakin banyak konsentrasi terpecah dan harus semakin lengkap sarana
yang dibutuhkan.  Ukuran bak disesuaikan dengan kemampuan dan luas
lahan, disarankan ukuran bak minimal 10 m3.
3. MANFAAT
Usaha pembenihan kakap putih skala rumah tangga diharapkan dapat
memberikan manfaat antara lain :
1) Membantu memecahkan kesulitan petani kurung apung yang selalu
kekurangan benih pada waktu musim tanam.
2) Menyediakan kakap putih dengan harga yang lebih rendah dengan kualitas
yang baik sehingga meningkatkan daya saing kakap putih Indonesia di
pasaran internasional.
3) Memanfaatkan tanah pekarangan sekaligus meningkatkan pendapatan
keluarga, terutama yang bertempat tingga di daerah pantai.
4) Menciptakan lapangan kerja.
5) Mendukung program nasional "Meningkatkan Ekspor Non Migas" melaui
pengadaan salah satu komponen produksi dalam sistim budidaya kakap
putih.
6) Membantu penyediaan benih untuk petani ikan di kurung apung dengan
memberikan kesempatan dan mendidik mereka untuk menghasilkan benih
sendiri.
4. PERSYARATAN LOKASI
Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung
pada lokasi yang tepat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
pemilihan lokasi adalah sebagai berikut :
1) Sumber Air Laut
Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan
jernih sepanjang tahun, perubahan salinitas relatif kecil.  Lokasi yang sesuai
biasanya di teluk yang terlindung dari gelombang/arus kuat dan terletak di
lingkungan pantai yang berkarang dan berpasir.  Lokasi juga harus jauh dari
buangan sampah pertanian dan industri.  Persyaratan teknis kimia dan fisika
yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut :
- Salinitas : 28 - 35
- pH : 7,8 - 8,3
- Alkalinitas : 33 - 60 ppm
- Bahan organik : < 10 ppm
- Amoniak : < 2 ppm
- Nitrit : < 1 ppm
- Suhu : 30 – 33 derajat Celcius
- Kejernihan : maksimum
2) Kemudahan
Lokasi harus terletak pada jarak kurang dari 3 jam perjalanan dari lokasi
induk matang telur, 12 jam dari lokasi pemasok telur/larva D1 dan tidak lebih
dari 12 jam perjalanan ke lokasi pemasaran.
3) Sumber Air Tawar
Air tawar dibutuhkan untuk menurunkan salinitas air laut yang diperlukan
sesuai dengan kebutuhan.  Selain itu air tawar juga digunakan untuk
mencuci bak dan peralatan pembenihan lainnya agar tidak mudah berkarat.
4) Sumber Listrik
Pembenihan tidak dapat dioprasikan tanpa listrik.  Listrik sangat penting
sebagai sumber tenaga untuk menjalankan peralatan pembenihan seperti
blower, pompa air dan sistim penunjang lainnya.  Pemasangan generator
mutlak diperlukan terutama untuk daerah yang sering tejadi pemadaman
aliran listrik.
5) Topography
Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan
pasang laut.  Lokasi tersebut juga harus terdiri dari tanah yang
padat/kompak.  Walaupun pembenihan skala rumah tangga secara
keseluruhan berskala kecil, namun bak pemeliharaan larva tetap bertonase
besar sehingga tanah dasar haruslah dipilih yang cukup stabil, misalnya
menghindari bekas timbunan sampah agar kekuatan bak terjamin.
5. FASILITAS DAN DISAIN HSRT KAKAP PUTIH
1) Fasilitas
Fasilitas yang diperlukan dalam unit pembenihan kakap putih skala kecil
cukup sederhana yaitu pompa, bak penampungan air tawar dan air laut, bak
pakan alami, bak pemeliharaan larva dan bak penetasan artemia,
aerator/blower dan perlengkapannya serta peralatan lapangan sebagai
penunjangnya.
a. Pompa
Pompa diperlukan untuk mendapatkan air laut maupun air tawar.  Apabila
air laut relatif bersih dapat langsung dipompakan ke bak penyaringan dan
disimpan dalam bak penampungan air.
Jika sumber air laut relatif keruh dan banyak mengandung partikel lumpur,
maka air laut di sedimentasikan dalam bak pengendapan, selanjutnya
bagian permukaan air yang relatif jernih di pompa ke bak penyairngan,
spesifikasi pomapa hendaknya dipilih dengan baik karena ukuran pompa
tergantung pada jumlah air yang diperlukan persatuan waktu, disarankan
untuk HSRT dengan kapasitas 3 bak pemeliharaan larva masing-masing
dengan kapasitas 10 m3 air, ukuran pompa 1,5 inci.
b. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut
Bak penampungan air dibangun pada ketinggian sedemikian rupa
sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan
sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih).  Bak terbuat dari
semen dan sebaiknya volume bak minimal sama dengan volume bak
pemeliharaan larva.  Bila tidak ada bak penampungan khusus dapat
mengunakan bak pemeliharaan larva yang difungsikan sebagai bak
penampungan air, kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa
submarsibel.
c. Bak Pemeliharaan larva
Bak pemeliharaan larva dapat terbuat dari semen, fiber glass atau
konsstruksi kayu yang dilapisi plastik, masing-masing bahan mempunyai
kelebihan dan kekurangan.  Ukuran bak dapat dibuat sesuai dengan
kemampuan dan target produksi yang ingin dicapai, tetapi disarankan
kapasitas/volumenya minimal 10 m3 karena bak dengan volume yang
lebih kecil stabilitas suhunya kurang terjamin.  Tinggi bak antara 1,2 - 1,5m, bak yang terlalu tinggi akan meyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari.
Bentuk bak bisa bulat atau segi empat.  Tergantung besarnya dana dan
selera.  Yang harus diperhatikan dalam hal bentuk dan ukuran bak adalah
tidak menyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari juga memudahkan
sirkulasi air.  Bak dengan bentuk bulat, saluran pembuangannya terletak
di tengah dengan dasar miring (kemiringan 5%) ke tengah (ke saluran
pembuangan).  Pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak
untuk mengatur dan mengontrol ketinggian air.
Bak segi empat sebaiknya berbentuk memanjang untuk memudahkan
pergantian air dan pada sudut-sudutnya tidak boleh mempunyai sudut
mati (sudut yang tajam).  Sudut yang tajam akan meyebabkan sirkulasi air
tidak sempurna sehingga sisa metabolit dan kotoran lain terkumpul pada
sudut bak, disamping itu sudut yang tajam juga akan menyulitkan dalam
pembersihan bak.  Pada bak dalam bentuk segi empat saluran
pemasukan dan pembuangan air diletakkan pada sisi yang berlawanan,
pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak (pipa goyang) untuk
mengatur dan mengontrol ketinggian air.  Dasar bak dibuat miring dengan
kemiringan 5% agar memudahkan dalam pembersihan bak.  Selain itu
dinding dan dasar bak harus halus agar tidak mudah ditempeli kotoran,
jamur dan parasit serta tidak menyulitkan dalam pembersihan bak.
Untuk keperluan pemanenan benih, baik pada bak bentuk bulat maupun
bentuk segi empat pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi
dengan bak  berukuran kecil untuk menempung benih yang akan dipanen.
Bak pemeliharaan larva memerlukan penutup di atasnya untuk mencegah
masuknya kotoran dan benda asing yang tidak dikehendaki serta
melindungi bak pemeliharaan dari air hujan.  Tutup bak dapat terbuat dari
plastik dan sebaiknya berwarna gelap untuk melindungi air/media
pemeliharaan larva dari penyinaran matahari yang berlebihan, sehingga
mencegah terjadinya blooming plankton pada medium air pemeliharaan
larva.  Selain itu penutup bak juga dapat mencegah terjadinya fluktuasi
suhu yang terlalu tinggi serta dapat menaikkan suhu pada bak
pemeliharaan larva.
d. Bak Kultur Plankton
Plankton (fito dan zooplankton) mutlak diperlukan sebagai pakan bagi
pemeliharaan larva kakap putih yaitu saat larva mulai
mengambil/membutuhkan makanan dari lingkungannya karena cadangan
makanannya yang berupa kuning telur sudah habis.  Selain sebagai
pakan alami, fitoplankton juga berfungsi sebagai pengendali kualitas air
dan pakan bagi kultur zooplankton/rotifer.
Bak untuk kultur plankton dapat dibuat dengan konstruksi kayu yang
dilapisi plastik, karena volume yang dibutuhkan tidak terlalu besar.
Ukuran bak cukup 2 x 2 x 0,6 meter masing-masing 4 buah untuk kultur
fitoplankton dan 4 buah lagi untuk kultur zooplankton (masing-masing bak
kultur plankton termasuk bak cadangan).  Jumlah dan ukuran bak kultur
plankton sebesar itu cukup untuk menyediakan pakan alami satu sikles
pemeliharaan (3 bak pemeliharaan larva dengan kapasitas 10 m3).
e. Bak Penetasan Artemia
Makanan alami lain yang dibutuhkan bagi kehidupan larva adalah Artemia
salina.  Artemia yang beredar di pasaran umum adalah berupa cyste atau
telur, sehinga untuk memperoleh naupli artemia yang siap diberikan pada
larva sebagai makanan harus ditetaskan terlebih dahulu.  Untuk
memperoleh naupli, cyste dapat langsung ditetaskan atau didekapsulasi
dahulu sebelum ditetaskan.
Bak penetasan artemia dapat terbuat dari fiber glass atau  plastik
berbentuk kerucut yang pada bagian ujung kerucutnya dilengkapi stop
kran untuk pemanenan naupli artemia.  Bentuk kerucut merupakan
alternatif terbaik karena hanya dengan satu batu aerasi di dasar kerucut
dapat mengaduk seluruh air di dalam bak penetasan secara merata,
sehinga cyste dapat menetas dengan baik karena tidak ada yang
mengendap atau melekat di dasar bak.  Volume bak penetasan sebaiknya
minimal 25 - 30 liter untuk menetaskan cyste artemia sebanyak 150 – 200 gram.
f. Aerator
Larva memerlukan oksigen terlarut dalam air untuk proses metabolisme
dalam tubuhnya, selain itu gelembung udara yan dihasilkan oleh aerator
dapat mempercepat proses penguapan berbagai gas beracun dari
medium air pemeliharaan larva.  Selain pertimbangan harga, aerator
sebaiknya bentuk dan ukurannya kecil, kekuatan tekanannya cukup besar
(sampai kedalaman 1 - 1,2 m) serta kebutuhan listriknya kecil.
Perlengkapan lain dari aerator adalah batu aerasi, slang aerasi dan
penatur aerasi untuk mengatur tekanan udara.
2) Peralatan Lapangan
Untuk menunjang pengelolaan pembenihan sehari-hari diperlukan beberapa
ember plastik, antara lain untuk menampung makanan sebelum diberikan ke
larva, ember panen untuk menampung dan menghitung benih serta ember
untuk menyaring air saat disiphon.  Peralatan lain adalah gayung untuk
menebarkan pakan, blender untuk mengaduk dan menghaluskan pakan
buatan bila diperlukan, saringan pakan (plankton net) berbagai ukuran sesuai
dengan lebar bukaan mulut larva serta slang air dari berbagai ukuran sesuai
kebutuhan.
3) Desain HSRT
Tata letak semua fasilitas HSRT harus diatur sedemikian rupa secara
matang dan menunjukan dimensi yang tepat sehinga lahan dan fasilitas yang
tersedia dapat digunakan seefisien mungkin, yang pada gilirannya dapat
memudahkan pekerjaan sehari-hari dan menekan biaya operasional.

6. TEKNIK PEMELIHARAAN
1) Pemeliharaan Larva
Sebelum larva dipindahkan (kira-kira 1 - 2 hari sebelumnya), bak
pemeliharaan larva harus dicuci dengan air tawar dan disikat lalu dikeringkan
selama 1 - 2 hari.  Membersihkan bak dapat juga dilakukan dengan cara
membilaskan larutan sodium hypokhlorine 150 ppm pada dinding bak,
selanjutnya dikeringkan selama 2 - 3 jam untuk menghilangkan chlorine yang
bersifat racun.
Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran dengan suhu 26- 28 derajat Celcius dan salinitas 29 - 32 ppt diisikan ke dalam bak dengan cara disaring
dengan penyaring pasir atau kain penyaring untuk menghindari kotoran yang
terbawa air laut.  Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistim aerasi dan
batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar merata keseluruhan air di
dalam bak.
Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm,
melayang dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi.  Umur 30 hari
larva ditempatkan di dalam bak yang terlindung dari pengaruh langsung sinar
matahari (semi out door tanks).
Padat penebaran awal dalam bak pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/liter
volume air.  Pada hari 8 - 15 tingkat kepadatan dikurangi menjadi 30 - 40
larva/liter, setelah hari ke 16 kepadatan larva diturunkan menjadi 20 - 30
larva/liter, karena pada umur ini larva sudah menunjukan perbedaan ukuran
dan sifat kanibalisme.
2) Pemberian Pakan Alami
Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain
sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan
pakan Rotifer.  Padat penebaran untuk Tetraselmis adalah 8 - 10 x 1000
sel/ml sedangkan untuk Chlorella adalah 3 - 4 x 10.000 sel/ml.
Umur 2 hari, larva sudah mulai membuka mulut, pada saat ini hingga hari ke
7 ke dalam bak ditambahkan Rotifera (Brachionus plicatilis) dengan padat
penebaran 5-7 individu/ml.  Pada hari ke 8 sampai hari ke 14 pemberian
Rotifera ditingkatkan jumlahnya menjadi 8 - 15 individu/ml.
Pada umur 15 hari larva mulai diberi pakan Artemia dengan kepadatan 11 - 2
individu/ml.
Setelah berumur 30 hari, dengan panjang badan 12 - 15 mm larva sudah
dapat memakan cacahan daging segar.
3) Pengelolaan Air
Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat
dengan tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi.  Dalam hal ini yang
terpenting adalah agar selalu mempertahankan lingkungan yang optimal
untuk pertumbuhan dan kehidupan larva.  Disamping itu perubahan yang
bersifat mendadak atau lingkungan yang tidak mendukung akan
mengakibatkan kematian larva, untuk menekan tingkat kematian disamping
perlu diperhatikan masalah sanitasi dan pengaturan pakan  yang seksama
perlu diperhatikan pengelolaan air yang baik.
Pada pemeliharaan larva kakap putih penggantian air dilakukan mulai pada
hari ke 13 sebanyak 10 - 20% hari sampai hari ke 14.  Pada hari ke 15
sampai hari ke 25 penggantian air sebanyak 30 - 40%, dilakukan secara
penyiponan.
7. PENGGOLONGAN UKURAN (Grading)
Pemeliharaan larva kakap putih dalam lingkungan terbatas denan persaingan
pakan dan ruangan akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak merata.
Penggolongan ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling
memakan sesama larva (kanibalisme), oleh karena ikan kakap putih
mempunyai sifat karnifor (ikan pemangsa).  Sifat kanibal pada larva kakap putih
akan semakin kelihatan saat mulai makan artemia (± 10 hari).
Wadah yang digunakan untuk penggolongan ukuran terbuat dari plastik yang
dilubangi dinding-dindingnya dengan ukuran tertentu pula, ukuran lubang
bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
Penggolongan ukuran dilakukan dengan cara memasukkan baskom plastik ke
dalam bak pemeliharaan di atas aerasi, agar ikan yang ukuran lebih kecil dari
lubang dapat lolos dan larva yang lebih besar tidak dapat lolos, selanjutnya
larva yang ukurannya lebih besar dipisahkan dan dilakukan lagi pengolongan
ukuran dengan menggunakan baskom yang mempunyai lubang ukuran lebih
besar.  Cara ini akan memisahkan ikan ke dalam beberapa ukuran tertentu dan
mempermudah pengelolaannya.
Penggolongan ukuran dilakukan dua kali yaitu penggolongan pertama pada hari
ke 10-14 dan penggolongan kedua pada hari ke 20 - 25.  Ukuran lubang
bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
8. PANEN
Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang
memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus
air keluar.  Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan
cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 - 20
cm, kemudian benih ditangkap dengan scopnet.
Agar larva kakap putih tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan
secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.

 DAFTAR PUSTAKA
1) Anonim, 1995.  Multi - Species Hatchery.  Seafdec Asian Aquaculture Vol.
XVII No. 2, 1995.
2) Dit. Bina Sumber Hayati.  Peta Sumber Perikanan Indonesia.
3) Mintardjo, K., H. Santoso, Suci Antoro, 1995.  Teknologi Pembenihan Kakap
Putih (Lates calcarifer, Blosh), BBL - Lampung.
4) Mintardjo, K., 1993.  Kakap Putih Komoditi Potensial Untuk Pengembangan
Agribisnis Desa Pantai, Buletin Budidaya Laut No. 7, 1993.
5) Mintardjo, K., H. Suci Antoro.  Hidayat Adi Sarwono, 1996.  Pengembangan
HSRT Multi Species Udang - Kakap Putih.
 SUMBER
Pembenihan Kakap Putih (Lates calcariver, Bloch) Skala Rumah Tangga
(HSRT - Hatchery Skala Rumah Tangga), Direktorat Bina Pembenihan,
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1996

Budidaya Ikan Bandeng


Dalam proses pembesaran ikan bandeng, pertama-tama harus mempersiapkan petak budidaya dengan cara memperbaiki tata pertambakan dan pematang, memasang saringan halus pada pintu. Selain itu, juga mengeringkan dasar tambak. Selanjutnya mempersiapkan petak peneran dan penggelondongan dengan cara mengeringkan petakan selama 1-2 hari, setelah itu air dimasukkan sampai ketinggian kira-kira 1-5 cm, lalu tambak dikeringkan lagi dan diisi air lagi pada ketinggian yang sama, kemudian diberi urea dan TSP. Dala persiapan petak penggelondongan, juga dilakukan penggalian caren, untuk petak ini gunakan saringan yang kasar.

Dilakukan pemupukkan urea dan TSP dengan perbandingan 1:1. Pengeringan petakan dilakukan 5-7 hari, kemudian diisi air dengan ketinggian 15 cm. Selanjutnya didiamkan sekitar 7 hari, lalu air diganti dengan yang baru. Ketiga, persiapan petak pembesaran dilakukan dengan cara pengeringan petakan, perbaikan pematang, pemberantasan hama dan penyakit, pengelolaan air, serta pemupukkan. Keempat, pemberantasan hama menggunakan pestisida. 

Terdapat 3 jenis hama ditambak yaitu predator, kompetitor dan perusak. Dosis penggunaan pestisida tergantung hama yang ada.

Persiapan Petak Budidaya

Mempersiapkan petak budidaya dengan perbaikan tata pertambakan, yaitu meliputi perbaikan pematang, perbaikan caren (saluran keliling) dan perbaikan kebocoran.

Pematang petakan yang telah terkikis (longsor atau erosi) harus diperbaiki. Bocoran pada pematang akibat kepiting atau hewan lain harus diperbaiki.

Pada bagian pintu arah petakan dipasang saringan halus (kasa dan nilon ataupun sejenisnya) yang berfungsi untuk mencegah masuknya ikan liar ataupun udang.
Setelah perbaikan tata pertambakan, dasar tambak dikeringkan dan diratakan. Pengeringan dilakukan sampai keadaan tanah menjadi retak-retak.

Persiapan Petak Peneran dan Penggelondongan

Pada prinsipnya persiapan petak peneneran dan penggelondongan adalah sama, hanya pada penggelondongan ukuran petaknya lebih besar.

Sebelum nener tiba, petak peneneran mulai disiapkan dan diperbaiki pematangnya. Petakan dikeringkan kira-kira 1-2 hari atau dilakukan perataan dasar tambak, dikerjakan dengan kemiringan dibuat menuju ke arah pintu air selama tanah belum keras. Pengeringan dilakukan sampai tanah retak-retak, kira-kira kandungan air dalam tanah tebalnya 10 cm.

Setelah itu air dimasukkan sampai ketinggian kira-kira 1-5 cm, kemudian hamanya diberantas. Setelah didiamkan kira-kira 20 hari, air diganti terus selama 3 hari.
Tambak dikeringkan lagi dan kemudian diisi air dengan ketinggian yang sama. Kasa penyaring dipasang di pintu air masuk pada petak peneneran, lalu air dimasukkan kembali sedikit demi sedikit.

Selanjutnya dilakukan pemupukan dengan urea danTSP dengan perbandingan yang bervariasi sekitar 75 kg-2 kwintal per hektar.

Dalam persiapan petak penggelondongan, pada saat pengeringan dasar tambak dilakukan pula penggalian pada eaten (saluran keliling) dan lumpurnya dipergunakan untuk memperbaiki pematang yang bocor.

Petakan dikeringkan dan dibuat kemiringan dasar petakan ke arah caren. Pengelolaan air tambak di caren setinggi 30-50 cm sedangkan di pelataran setinggi 15-20 cm.

Untuk petak ini tidak diperlukan petak aklimatisasi dan saringan halus yang terbuat dari nilon, tapi saringan yang lebih kasar.

Melakukan pemupukan sebanyak 40 kg-1 kwintal per hektar dengan perbandingan urea dan TSP yaitu 1:1.

Pengeringan petakan dilakukan pada umumnya 5-7 hari, kemudian air dimasukkan dengan ketinggian kira-kira 1-5 cm dan selanjutnya hama diberantas.

Selanjutnya didiamkan selama kira-kira 7 hari. Lalu air diganti dengan air baru dengan ketinggian yang sama dan ditambahkan sedikit demi sedikit, dan dilakukan pemupukan dengan urea dan TSP.

Persiapan Petak Pembesaran Persiapan Petak Pembesaran

Pengeringan petakan secara total, perbaikan pemberantasan hama dan pemupukan.
Pengelolaan air tambak di caren setinggi 40-100 cm sedangkan di pelataran setinggi 20-30 cm.

Pupuk yang digunakan adalah urea dan TSP dengan perbandingan 1:1 sebanyak 40 kg-I kwintal per hektar. Pengeringan tanah petakan tidak boleh berlebihan.
Selama persiapan petak budidaya, lumpur dan serasah organik yang terakumulasi di dalam caren harus dibuang (diangkut ke pematang).

Pemberantasan Hama
Untuk menghilangkan sisa hama yang masih hidup tersebut, harus dilakukan pemberantasan hama(kompetitor dan predator) dengan bahan beracun (pestisida).
Jenis hama di tambak terdiri dari tiga kelompok, yaitu predator, kompetitor dan perusak. Ikan bulan-bulan (Megalops cyprinoides), bandeng laki-laki (Elops hawainensis, ular air (Cerberus ryncrops) dan burung merupakan contoh beberapa jenis predator; sebagai kompetitor antara lain ikan mujair (Tilapia mossamico), belanak (Mugil cephalus) dan tritipan; sedangkan kepiting merupakan organisme perusak habitat.

Obat pemberantas hama yang biasa digunakan oleh petani misalnya thiodan, sejenis pestisida. Dosis penggunaannya tergantung pada hama yang ada. Umumnya dosis yang digunakan pada petak perleneran adalah 2 sendok teh untuk 100 m2, serta pada petak penggelondongan dan pada petak pembesaran adalah 0.5-1 liter per hektar.

Penumbuhan Makanan Alami

Jenis makanan alami yang biasanya ditumbuhkan dalam menunjang pertumbuhan bandeng adalah klekap. Klekap merupakan jasad renik yang disusun oleh alga biru, benthos, diatom, bakteria dan organisme renik hewani. Penyusun utama klekap ini adalah Oscillatoria dan diatom.

Cara yang biasa digunakan untuk menumbuhkan klekap adalah mula-mula meratakan tambak dan membiarkannya selama 2 minggu hingga kering.

Setelah tanah cukup mengeras, tanah dipupuk dengan pupuk anorganik (urea) sebanyak 50 kg/hektar.

Kemudian tambak digenangi air pasang yang baru setinggi kira-kira 10 cm. Setelah klekap mulai tumbuh, kedalaman air dinaikkan secara bertahap sampai sekitar 20 cm dan selanjutnya petakan siap untuk ditebari ikan.

Teknik Budidaya Bandeng

1) Benih Bandeng
Nener ini merupakan larva ikan bandeng yang biasanya memiliki panjang tubuh minimal 11 mm, yaitu pada umur 25 hari setelah ditetaskan.
Ciri-ciri nener yang baik adalah bergerak aktif mengelilingi wadah di dekat permukaan badan air, berwarna bening kehitaman, memiliki dua bintik mata berwarna hitam, memiliki gelembung udara yang tampak di bagian tengah, tidak cacat tubuh bebas penyakit dan parasit.

Toleransi nener terhadap perbedaan salinitas cukup besar yaitu 0 — 40 promil. Sedangkan toleransi terhadap suhu berkisar antara 12— 35 °C.
Dalam perawatan nener bandeng, makanan yang dapat diberikan misalnya kuning telur yang direbus. Waktu pemberian makanan dua kali sehari dan biasanya sebutir kuning telur diberikan untuk 10,000 ekor nener.
Setiap kali selesai pemberian makanan harus diikuti dengan pergantian air. Lama pemberian makanan kira-kira 30 menit.

2)    Kegiatan Peneneran di Petak Pengipukan

Pemeliharaan nener dilakukan di petak-petak yang relatif kecil, satu petak peneneran luasnya berkisar antara 150 - 250 m2.
Pada saat petak peneneran sudah siap ditebari dengan benih, maka perlu diberi pelindung. Pelindung yang biasanya digunakan adalah daun kelapa. Cabang-cabang tanaman tersebut ditancapkan di permukaan petakan pada tiap-tiap sudutnya.
Kegiatan penebaran nener dilakukan setelah kurang lebih satu minggu, sampai saat makanan alami (klekap) tumbuh, dengan padat penebaran tiap meter perseginya berkisar antara 30-60 ekor. Pergantian air di petak peneneran dilakukan 5-10 hari sekali untuk menjaga agar kualitas air di dalam tambak.
Sebelum nener ditebarkan ke dalam petak pengipukan, terlebih dahulu petak pengipukan diisi air tawar yang diangkut dan sumur air tawar terdekat.
Nener dipelihara di petak pengipukan selama 1-1.5 bulan. Setelah 1-1.5 bulan, nener dipindahkan ke petak pembuyaran. Untuk petak pengipukan yang berada di dalam petak pembuyaran, pematang pada petak pengipukan dirusak, gelondongan kecil dibiarkan masuk ke dalam petak pembuyaran dengan sendirinya.

3)   Kegiatan Penggelondongan di Petak Pembuyaran

Gelondongan dipelihara dalam petakan mi selama 1-3 bulan dan selanjutnya dipindahkan ke dalam petak pembesaran.
Perpindahan gelondongan antar petakan sering dilakukan dengan merusak sebagian pematang, tapi umumnya perpindahan gelondongan dilakukan dengan menggunakan seser ke petak pembesaran.

4)   Kegiatan pembesaran di petak pembesaran

Luas petak pembesaran biasanya berkisar antara 0.15-0.45 ha.
Gelondongan dan petak pembuyaran dipindahkan ke petak pembesaran dengan menjaring ikan dan ikan yang terjaring dipindahkan ke petak pembesaran yang telah disiapkan dengan jalan merusak pematang petak pembuyaran bersebelahan dengan petak pembesaran dan ikan dibiarkan pindah sendiri.
Pematang ditutup kembali setelah jumlah ikan yang pindah dirasa telah cukup atau sesuai dengan luas petak pembesaran. Padat penebaran gelondongan di petak pembesaran biasanya adalah 200 ekor per hektar.

5) Perawatan

Selama pemeliharaan pematang dirawat secara baik dengan memeriksa kemungkinan adanya pematang yang rusak atau bocor, penggantian air dan penaikan air secara bertahap mencapai kedalaman 60 cm pada saat pemanenan.

6)   Pemanenan

Selama pemeliharaan di petak pembesaran selama kurang lebih 2 - 5 bulan (biasanya 3 bulan) maka ikan sudah dapat dipanen.
Pada saat panen dipilih ikan-ikan yang telah mencapai berat sekitar 200 - 250 gram per ekor. Ikan-ikan yang belum mencapai ukuran konsumsi terus dipelihara dalam petak pembesaran sampai mencapai ukuran konsumsi.
Pemanenan dapat dilakukan secara bertahap (selektif) maupun secara total. Pemanenan bertahap dilakukan dengan mengunakan jaring. Panen total dilakukan dengan mengeringkan petakan tambak. Air dikeringkan, sampai yang tersisa hanya pada bagian caren saja. Selanjutnya penangkapan dilakukan dengan tanggok dan jaring.
Pemanenan biasanya dilakukan pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit.

Sumber: Dit PMP, DKP
Kontak: Departemen Kelautan dan Perikanan
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil


TEKNIK PEMIJAHAN IKAN BANDENG

ikan bandeng biasanya memijah pada fase ke enam . ikan ini memijah dalam 2 musim setiap tahunnya di Indonesia.

Musim 1 antara bulan februari sampai mei dengan puncaknya pada bulan maret sampai april .
musim kedua pada bulan juli sampai desember dengan puncak bulan september sampai oktober.

Perangsangan pemijahan ikan bandeng

Ikan Bandeng sulit memijah secara alami sehingga perlu dilakukan suatu bantuan dalam proses pemijahannya. Teknik yang dapat digunakan adalah Teknologi rekayasa hormonal.  Hormon yang digunakan adalah hormon LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) atau Methyl Testosteron.  Hormon ini biasanya Diberikan dalam bentuk pellet hormon dengan cara penyuntikan

Cara penyuntikan pellet hormon ke ikan bandeng

Induk bandeng diletakkan di atas bantalan busa.
Lendir yang melapisi bagian punggung  sebelah kanan indukan dibersihkan.
Salah satu sisik dilepas dengan pisau kecil kemudian pisau tersebut ditisukkan untuk membuat lubang untuk menanam pellet hormon.

Pellet hormon dimasukkan dengan bantuan implanter.
Indukan kemudian dimasukkan lagi ke bak pemeliharaan.

Pemijahan telur dan spermatozoa bandeng yaitu :
Pemijahan ini terjadi pada malam hari dan memerlukan paling sedikit 300 ton air dengan salinitas 30 permil. bak tempat pemijahan tersebut diaerasi. Kemudian terjadi pembuahan telur sehingga dihasilkan zigot.
telur akan terapung dalam air bak pemijahan sehingga harus dipindahkan ke bak inkubasi telur dimana pengambilan telur menggunakan aliran air yang diberi saringan berukuran 850 mikron.

Inkubasi telur

Telur tersebut diinkubasi selama 6 jam
Inkubasi pada bak inkubasi
salinitas bak sebesar 30 permil
Setelah selesai kemudian dipindahkan ke bak penetasan

Pemindahan dilakukan dengan peningkatan salinitas menjadin 40 per mil dengan tujuan mempermiudah penyerokan.

Hasil penetasan telur yaitu :
dibilas dengan air tawar bersih.
Telur yang menetas dalam waktu 24 – 26 jam kemudian mengalamai proses perkembangan secara bertahap menjadi larva selanjutnya nener yang siap untuk dipelihara atau pun dijual.